Rabu, 17 September 2014 | 12:33 WIB

Bisnis Ala Ustadz Yusuf Mansyur Ujian OJK

Selasa, 29 Juli 2013 / macro / antara

Bandarlampung, investorpialang.com - Pemberian sanksi edukasi terhadap Ustadz KH Yusuf Mansyur yang mengembangkan bisnis menggalang dana dan aset dari umat Islam, menurut akademisi dan konsultan bisnis dari Universitas Lampung Dr Ayi Ahadiat SE MBA adalah ujian bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) itu di Bandarlampung, Jumat, mengatakan bisnis ala Ustadz Yusuf Mansyur (YM) sebagai 'public figure' dan tokoh panutan yang mencoba memberikan kontribusi bagi peningkatan kemampuan ekonomi umat Islam terutama kemampuan ekonomi melalui partisipasi para jamaah yang setia mengikuti langkah terobosan bisnis, dapat dilihat dari sisi OJK dan bagi Ustadz itu sendiri.

Bagi OJK, kejadian ini merupakan 'test case' atau ujian yang menunjukkan pengawasan OJK berjalan atau tidak terhadap lembaga keuangan nonbank, katanya.

Dengan diberikan sanksi edukasi yang lebih memberikan kesempatan bagi usaha patungan ala Ustadz KH Yusuf Mansyur (UP-YM) itu, untuk melakukan persiapan legalitas yang lebih matang.

"Ini juga merupakan momentum untuk meningkatkan financial literacy bagi para stakeholders yang terkait langsung pada usaha investasi tersebut," ujar lulusan Master of Business Administration (MBA) dari Haworth College of Business Western Michigan University-AS itu pula.

Dia mengingatkan semua pihak hendaknya dapat mengambil pembelajaran dari fenomena bisnis yang dikembangkan ala Ustadz Yusuf Mansyur tersebut.

Menurut Ayi yang juga Ketua Pusat Jasa Ketenagakerjaan Universitas Lampung (Unila), hikmah atau pembelajaran positif dapat diambil dari fenomena usaha patungan ala Ustadz Yusuf Mansyur (UP-YM) itu.

Ayi Ahadiat menyebutkan, pembelajaran positif bagi Ustadz Yusuf Mansyur dalam pengelolaan UP-YM yang dinilai OJK memiliki lima kekurangan dalam bisnisnya, yaitu belum berbadan hukum, tidak memiliki izin usaha, bukti investasi tidak jelas, menetapkan imbal hasil, dan aset masih atas nama orang lain yang dapat dilihat sebagai upaya penanaman nilai kehati-hatian dalam mengelola bisnis keuangan (investasi) seiring dengan meningkatnya isu investasi bodong.

Penegakan micro-prudential practice pada bisnis keuangan nonbank ini memang menjadi tugas pokok OJK, ujar dia lagi.

"Dengan dimintanya UP-YM melengkapi segala kekurangan legalitas dan kaidah bisnis keuangan tentunya akan meningkatkan juga akuntabilitas dan kredibilitas publik pada UP-YM itu sendiri," kata doktor ekonomi dan bisnis lulusan UGM Yogyakarta.

Setelah berjalan nanti, katanya, UP-YM sebagai modus bisnis yang comply pada peraturan perundangan dapat diperkirakan akan terjadi efek tular (contagious effect) yang besar terhadap perkembangan ekonomi kerakyatan.

Ustadz Yusuf Mansyur dengan modal sosial besar yang dimiliki dapat dikonversi menjadi modal investasi yang besar, ujarnya pula.

UP-YM ini bisa dipastikan dapat menginspirasi bisnis sejenis, sehingga dengan akan tumbuhnya bisnis sejenis, Ayi menyarankan agar OJK perlu mengantisipasi dengan mekanisme surveilance agar tidak terjadi praktik-praktik menyimpang yang merugikan masyarakat.

Dia mengingatkan pula, sembari meningkatkan sisi microprudential dalam mengelola investasi dengan pola UP-YM, OJK dapat menjadikan UP-YM sebagai 'role model' untuk mendorong kemajuan sektor riil yang berbasis komunitas atau keumatan.

"Semakin banyak masyarakat yang mau dan sadar akan hak dan kewajiban dalam bisnis sejenis ini, akan mengindikasikan semakin meningkatnya financial literacy masyarakat kita," katanya lagi.

Ayi Ahadiat justru berharap efek bola salju bisnis keuangan berbasis masyarakat akan terjadi di Indonesia.

Dengan demikian UP-YM dapat dikatakan sebagai "driver of strategic change" pada usaha keuangan di Indonesia, kata dia menegaskan.

Dibaca : 225 kali
Baru dibaca Terpopuler