Senin, 24 Nopember 2014 | 07:50 WIB

Ciptakan Keamanan dan Ketertiban dengan Pemberdayaan Masyarakat

Tokoh
Jumat, 06 September 2012 / columns / rikky affandy daulay
Ciptakan Keamanan dan Ketertiban dengan Pemberdayaan Masyarakat

Kapolda Kalimantan Selatan, Brigjen Pol Drs. Syafruddin, M.Si

Investor Pialang, Jakarta - Dengan mengedepankan potensi pemberdayaan masyarakat, suasana keamanan dan ketertiban dapat menciptakan kemanan yang kondusif dan mendorong semua stakeholder menjadi alat pendukung tugas polisi. Menempatkan satu polisi di setiap desa diharapkan mampu mendapatkan informasi hingga dapat terdeksi dini serta melakukan tindakan preventif terkait masalah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

Mengemban amanah menjadi Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan, Brigjen Pol Drs. Syafruddin, M.Si. terus melakukan terobosan-terobosan yang brillian agar dapat menghadirkan Polda Kalimantan Selatan yang mampu mewujudkan kehadiran Polisi yang profesional, bermoral dan modern yang benar-benar dapat dipercaya dan dirasakan oleh masyarakat baik sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat maupun sebagai aparat penegak hukum yang profesional, proporsional, transparan, jujur dan adil.Ini sesuai dengan visi Polda Kalimantan Selatan. Hal ini terus diupayakan agar terwujud misi Polda Kalimantan Selatan. Yakni, pertama, melakukan perubahan sikap dan perilaku Polisi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kedua,melakukan perubahan pola pendekatan Polisi dengan masyarakat dari pemikiran reaktif ke pemikiran pro-aktif  dengan mengedepankan konsep Community Policing. Ketiga, melakukan perubahan gaya kinerja Polisi dalam menjalankan profesinya, baik dalam rangka tugas preventif maupun dalam penegakan hukum secara profesional, proporsional, transparan, jujur dan adil. Keempat, melakukan pemeliharaan dan peningkatan kualitas kemampuan personel melalui pendidikan / pelatihan / penataran sebagai upaya percepatan peningkatan kualitas kemampuan personel Polri. Dan kelima, melakukan Perubahan / instrumental modern sebagai  pendukung Operasional Tugas Kepolisian  dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Langkah awal yang dilakukan oleh pria kelahiran Ujung Pandang, 12 April 1961 ini adalah memberdayakan potensi anggota Polda Kalimantan Selatan, dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Kalimantan Selatan. Kemudian, lulusan Akpol 1985 ini juga tidak lupa untuk menggerakkan semua stakeholder yang menjadi pendukung tugas-tugas Polda Kalsel. Stakeholder yang dimaksud adalah Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat,Wartawan serta stakeholder lainnya yang terkait. Ia menganggap  LSM dan kuli tinta itu, adalah bagian yang sangat erat dan saling membutuhkan dengan institusi kepolisian. “LSM dan Wartawan, selalu menjadi mitra dan bagian penting bagi kepolisian, ” ungkap Kapolda Kalimantan Selatan,  Brigjen Pol Drs. Syafruddin, M.Si  kepada Majalah OTDA Indonesia di ruang kerjanya, Jl. S. Parman no. 16 Banjarmasin, belum lama ini.

Selain LSM dan Wartawan, peran pemerintah daerah  di tiga belas Kabupaten/Kota  di Kalsel dan didukung Tentara Nasional Indonesia (TNI), tokoh pemuda, tokoh agama dan tokoh masyarakat, menjadi hal yang dapat bermanfaat untuk  diberdayakan di Kalsel, sehingga tercipta keamanan dan ketertiban yang kondusif di Bumi Lumbung Mangkurat.

Akhir-akhir ini kita seringkali disuguhi oleh pemberitaan media massa mengenai aksi bentrokan yang menjurus anarkis di berbagai daerah. Umumnya aksi bentrokan ini terjadi karena permasalahan sengketa tanah,  tuntutan upah buruh dan ketidakpuasan atas hasil pilkada. Maka, tidak heran jika ada beberapa pihak yang menilai penanganan keamanan yang dilakukan oleh polisi, yang diharapkan, sebagai pengamanan, pelindung dan pengayom masyarakat ini cenderung tidak netral. Sehingga tidak jarang, ketika polisi datang untuk mengamankan situasi, masyarakat cenderung sudah apriori. “Ada mindset yang salah, dimana masyarakat menilai keberpihakan dan keberadaan polisi di tempat kejadian itu cenderung mendukung para pengusaha atau pemilik terutama pada objek-objek yang diamankan. Sehingga, ketika kedatangan kepolisian ke tempat kejadian perkara, masyarakat sudah apriori. Hal inilah yang harus dirubah pola pikir (Maindset) di lingkungan masyarakat. Pola pikir masyarakat ini, harus dirobah, dengan Slogan Polisi senantiasi dibelakang masyarakat” kata mantan Ajudan Wakil Presiden  RI ini.

Syafruddin mengatakan, anggota Polda Kalsel dibawah kepemimpinannya, jika menemukan persoalan di atas, maka untuk menyelesaikannya harus netral, tidak memihak antara pemilik dan mereka si pendemo (masyarakat), tapi melihat fakta-fakta yang ada. Dalam penanganan situasi yang tidak kondusif, Polisi harus berpihak dulu pada masyarakat, baru polisi mengamankan objeknya.  “Ini pola berpikir pertama, dan kedua berpikir simbolik kepolisian di lapangan, bahwa polisi ada dibelakang, manakala para unjuk rasa, protes, polisi ada dibelakang masyarakat. Baik secara konsep maupun simboliknya, inilah yang saya arahkan di institusi Kepolisan Kalsel,”terangnya.

Satu Polisi setiap satu Desa

Lanjut Syafruddin, Pola operasi di Polisi dan Jajarannya di Kalsel, ada dua ;pertama, operasi intelijen, dengan persuasif dan melakukan deteksi dini. Artinya, adanya gejolak masyarakat yang mungkin (bukan yang sudah muncul). Kedua, menerapkan kebijakan pimpinan Polri, dimaksimalkan sedemikan rupa, dengan menempatkan polisi ada di setiap satu desa. “Kebijakan ini, saya lakukan menempatkan satu polisi di setiap desa yang berada di wilayah Kalimantan Selatan,” tandasnya.

Kebijakan satu polisi setiap desa, dilakukan Syafruddin, mengingat sebelumnya belum pernah ada. Sedangkan umumnya keberadaan polisi berada di Polsek yang ada di Kecamatan. Sedangkan, akar dari konflik yang terjadi di suatu wilayah biasanya dari desa.”Kadang polisi itu seminggu sekali ke desa, padahal potensi konflik itu ada di desa”, tuturnya.

Menurut Syafruddin, persoalan yang muncul kerap terjadi dari desa, seperti masalah tanah, timbullah rasa ketidakadilan. Kalau melihat di Kalsel ini, ada pengembangan perkebunan sawit, pertambangan, warga merasa ada  dirugikan. Inilah yang diutamakan oleh institusi polisi, sebagaimana masalah itu sering terjadi di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, polisi yang di desa itu harus dapat melaporkan persoalan sebelum meluas dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Saya tekankan, kepolisian di Polsek harus terus sering jemput bola ke masyarakat. Apabila ada masalah sekecil apapun harus dilaporkan, kalau ada warga yang merasa dirugikan, apakah sudah ada penyelesaiannya atau sudah ada kesepakatannya,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya kerap memberi contoh kepada jajarannya. “Semua Kepala Desa yang berada di wilayah Kalsel sudah saya temui. Terutama setiap kunjungan ke daerah, saya haruskan selalu bertemu dengan kepala desa itu. Ini yang menjadi salah satu agenda saya dalam melakukan kunjungan kerja,” ucapnya. Bahkan dirinya berani menggaransi, bahwa seluruh kepala desa di wilayah Kalsel, yang berjumlah 4500 kepala desa mengenal dan memiliki nomor kontak dirinya.

 

“Kedekatan saya ini ke kepala desa, saya berikan motivasi kepada Kapolres untuk mendekatkan diri ke kepala desa. Saya saja Kapolda dekat dengan Kepala desa, apalagi Kapolres dan Kapolsek.Maka tidak ada alasan tidak ketemu kepala desa,” tambahnya.

Bahkan, rumah dia dijadikan rumah rakyat. Artinya, terbuka bagi kepala desa datang menyampaikan aspirasinya. “Silakan sampaikan aspirasi, rumah Kapolda itu rumah rakyat” kata mantan Waka Poldasu ini.

Saat ini Polda Kalsel memprioritaskan Program Satu Polisi Satu Desa, inilah yang dia ingin wujudkan dengan mengemban amanah sebagai Kapolda Kalsel.“Pimpinan Polri terus memberikan masukan  demi terciptanya kemanan dan ketertiban di wilayah Kalsel, sesuai dengan kearifan di wilayah polda masing-masing. Oleh karena itu kepercayaan yang telah diberikan ini harus dimanfaatkan dan dimaksimalkan dengan baik,” ujarnya.

Prinsip Hidup

Prinsip hidup bagi Syafruddin, semua manusia sama derajatnya, semua manusia ciptaan Tuhan. “Saya adalah bagian dari masyarakat,” ungkapnya dengan tegas. Inspirasi semua ini tidak lepas dari pesan orangtuanya yang juga kerapkali memberikan contoh kepada dirinya tentang bagaimana menjalani hidup. Bapak Syafruddin ialah seorang putra seorang Raja Mandar di Sulawesi Barat.“Tapi Bapak saya tidak pernah memposisikan ataupun menunjukkan dia sebagai seorang Raja. Ketika berinteraksi dengan masyarakat pun, kadang berjalan kaki. Bahkan titel dan embel-embel kerajaan itu ditinggalkannya,” tuturnya. Kepribadian dari orangtuanya inilah yang membentuk kepribadian dari Syafruddin. “Keteladan bapak saya, saya contohkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang saya tanamkan dimanapun saya diberikan amanah tugas kepolisan hingga sebagai pimpinan di daerah, dengan memberdayaan masyarakat, membantu kepedulian masyarakat,” ucapnya. Secara khusus orangtuanya berpesan, manakala memegang sesuatu jabatan, jangan pernah lupa darimana kamu berasal. Artinya, sehebat apapun jabatan yang kita raih, jangan pernah kita lupa diri. Semua manusia berawal dari rakyat biasa  Disinggung dengan bagaimana dirinya membagi waktu antara kesibukan tugasnya dan keluarganya. “Komunikasi merupakan hal yang mutlak. Walaupun jarang bertatap muka, tetapi melalui alat komunikasi bisa saling sapa dan mengetahui keberadaannya. Saya selalu mengedepankan komunikasi kepada keluarga,” ujarnya mengakhiri perbincangan dengan Majalah OTDA Indonesia.

Untuk membaca berita ini lebih lanjut silahkan baca di Majalah OTDA edisi Oktober 2012

Dibaca : 1108 kali
Baru dibaca Terpopuler